Moonchild adalah proyek John Zorn yang bukan hanya terdiri dari Mike Patton, tapi juga dua kawan yang sering dia andalkan dalam proyek-proyek eksperimentasi musik rock lainnya seperti Joey Baron dan Trevor Dunn. Proyek ini juga merupakan pertama kalinya John Zorn bangkit kembali dengan karya yang menyegarkan setelah membubarkan Naked City di awal 90-an. Hanya saja, proyek ini lebih mengedepankan improvisasi yang bernuansa gelap, penuh ambien dan noise kelam. Di album inilah, Mike Patton mati-matian menunjukkan betapa luasnya jangkauan vokalnya. John Zorn seperti sengaja menjadikan vokal Mike Patton sebagai daya tarik utama. Setelan bas yang ekstra rendah serta permainan drum yang liar dirancang seolah memberi jalan bagi vokal untuk bebas menjelajah. Album ini memiliki seri lanjutan yang diberi tajuk Astronome.

Ada baiknya menonton filmnya terlebih dahulu sebelum mendengarkan album ini secara utuh. Jika tidak, mungkin sensasi yang dirasa akan terlalu ganjil. Wes Anderson memang punya reputasi membuat film yang menghadirkan kesan emosional yang ganjil. Nyaman ditonton, cerita yang tak terlampau rumit, karakter yang kuat, hanya saja selalu terasa ada yang ganjil. Pemilihan lagu untuk soundtrack film ini mencerminkan sensasi tersebut. Jika lagu-lagu yang ada di album ini didengarkan secara terpisah, tak ada kesan anehnya sama sekali. Namun, ketika digabungkan ke dalam satu album, aura itu terasa sekali. Sebagian besar lagu di sini berisi karya klasik musisi India, Satyajit Rai yang beberapa bahkan dicomot dari scoring film-film klasik Bollywood karangannya. Jadi bayangkan jika di antara track bertabur musik India lawas itu, terselip lagu The Kinks dan Rolling Stones! Memang penggabungan berbagai jenis musik dalam album soundtrack bukanlah hal aneh, tapi seperti juga filmnya, sekilas terkesan wajar, tapi emosi yang dimunculkan -entah kenapa- ganjil. Seperti yang tadi disebutkan, setelah menyaksikan filmnya, segala keganjilan itu akan terjelaskan dengan sendirinya.

Di awal terbentuknya, Varttina hanyalah anak-anak perempuan pembaca puisi dari Finlandia. Mereka lantas berubah haluan dan mengganti pembacaan puisi dengan menyanyi beramai-ramai. Bahkan, dalam formasi di tahun-tahun awal, kelompok ini masih mengikutkan puluhan anak kecil untuk bernyanyi bersama. Kini, Varttina hanya terdiri dari tiga penyanyi perempuan yang sudah dewasa dan tiga pria sebagai musisi pengiring. Unsur dominan pada kelompok ini sudah jelas adalah vokal, yang dinyanyikan oleh tiga perempuan sekaligus dengan cengkok dan ritme folk khas Nordic. Sangat khas! Kelompok ini sudah menghasilkan banyak album dan kolaborasi semenjak 1983, tapi album inilah yang sesungguhnya membuat mereka dilirik secara internasional sebagai salah satu kelompok musik folk teratas di Eropa. Anak-anak yang menyanyi di kelompok ini memang sudah tumbuh besar, tapi mereka sebenarnya sudah menemukan ciri bernyanyi mereka sudah dari berpuluh tahun lalu. Mereka menyadari itu, dan itu sebabnya hingga saat ini pun kekhasan itu tetap dipertahankan.