Saturday, February 16, 2013

Moondog - Moondog (1969)





Moondog adalah nama alias Louis Thomas Hardin, seniman buta yang di awal karirnya sengaja memilih hidup di jalanan kota New York untuk mengamen dan menjual buku puisinya sambil mengenakan jubah Viking lengkap dengan helm bertanduk serta tongkat besar. Namun ia bukan musisi sembarangan, karyanya terbukti mengilhami banyak musisi dan komposer besar, khususnya yang menekuni jazz dan eksperimentasi minimalis. Selain sebagai musisi dan penyair, Moondog juga dikenal sebagai pencipta instrumen musiknya sendiri. Salah satu yang paling sering ia gunakan adalah Trimba, instrumen yang ia ciptakan di tahun 1940-an. Moondog senang membuat musik yang mengambil nuansa jalanan sebagai ritmenya. Inilah sosok yang wajib diteladani seniman sound dan musisi avant-garde masa kini, yang berhasil menghadirkan ambien sebagai bagian yang integral dalam musik, bukan sekadar tambalan atau elemen yang hampa. 

Tuesday, May 10, 2011

Moonchild - Songs Without Words



Moonchild adalah proyek John Zorn yang bukan hanya terdiri dari Mike Patton, tapi juga dua kawan yang sering dia andalkan dalam proyek-proyek eksperimentasi musik rock lainnya seperti Joey Baron dan Trevor Dunn. Proyek ini juga merupakan pertama kalinya John Zorn bangkit kembali dengan karya yang menyegarkan setelah membubarkan Naked City di awal 90-an. Hanya saja, proyek ini lebih mengedepankan improvisasi yang bernuansa gelap, penuh ambien dan noise kelam. Di album inilah, Mike Patton mati-matian menunjukkan betapa luasnya jangkauan vokalnya. John Zorn seperti sengaja menjadikan vokal Mike Patton sebagai daya tarik utama. Setelan bas yang ekstra rendah serta permainan drum yang liar dirancang seolah memberi jalan bagi vokal untuk bebas menjelajah. Album ini memiliki seri lanjutan yang diberi tajuk Astronome.

The Darjeeling Limited - OST


Ada baiknya menonton filmnya terlebih dahulu sebelum mendengarkan album ini secara utuh. Jika tidak, mungkin sensasi yang dirasa akan terlalu ganjil. Wes Anderson memang punya reputasi membuat film yang menghadirkan kesan emosional yang ganjil. Nyaman ditonton, cerita yang tak terlampau rumit, karakter yang kuat, hanya saja selalu terasa ada yang ganjil. Pemilihan lagu untuk soundtrack film ini mencerminkan sensasi tersebut. Jika lagu-lagu yang ada di album ini didengarkan secara terpisah, tak ada kesan anehnya sama sekali. Namun, ketika digabungkan ke dalam satu album, aura itu terasa sekali. Sebagian besar lagu di sini berisi karya klasik musisi India, Satyajit Rai yang beberapa bahkan dicomot dari scoring film-film klasik Bollywood karangannya. Jadi bayangkan jika di antara track bertabur musik India lawas itu, terselip lagu The Kinks dan Rolling Stones! Memang penggabungan berbagai jenis musik dalam album soundtrack bukanlah hal aneh, tapi seperti juga filmnya, sekilas terkesan wajar, tapi emosi yang dimunculkan -entah kenapa- ganjil. Seperti yang tadi disebutkan, setelah menyaksikan filmnya, segala keganjilan itu akan terjelaskan dengan sendirinya.

Sunday, May 8, 2011

Värttinä - Vihma



Di awal terbentuknya, Varttina hanyalah anak-anak perempuan pembaca puisi dari Finlandia. Mereka lantas berubah haluan dan mengganti pembacaan puisi dengan menyanyi beramai-ramai. Bahkan, dalam formasi di tahun-tahun awal, kelompok ini masih mengikutkan puluhan anak kecil untuk bernyanyi bersama. Kini, Varttina hanya terdiri dari tiga penyanyi perempuan yang sudah dewasa dan tiga pria sebagai musisi pengiring. Unsur dominan pada kelompok ini sudah jelas adalah vokal, yang dinyanyikan oleh tiga perempuan sekaligus dengan cengkok dan ritme folk khas Nordic. Sangat khas! Kelompok ini sudah menghasilkan banyak album dan kolaborasi semenjak 1983, tapi album inilah yang sesungguhnya membuat mereka dilirik secara internasional sebagai salah satu kelompok musik folk teratas di Eropa. Anak-anak yang menyanyi di kelompok ini memang sudah tumbuh besar, tapi mereka sebenarnya sudah menemukan ciri bernyanyi mereka sudah dari berpuluh tahun lalu. Mereka menyadari itu, dan itu sebabnya hingga saat ini pun kekhasan itu tetap dipertahankan.

Thursday, December 23, 2010

Koby Israelite - Dance of the Idiots


Download

Koby Israelite adalah seorang komposer asal Tel Aviv yang meskipun kini hijrah ke London, semangat Israelnya masih begitu mengakar. Ini adalah album debutnya yang mana ia memainkan sebagian besar instrumen yang ada, mulai dari akordion, drum, piano, flute, klarinet, kibor, perkusi, hingga gitar. Musik Koby Israelite begitu luas ragamnya, mengingatkan akan eksplorasi yang kerap dilakukan oleh Mr.Bungle. Meski begitu, bisa dibilang bahwa musik di album ini pada dasarnya adalah klezmer a la balkan yang dibubuhi elemen-elemen bebas seperti jazz, rock, funk, punk, hingga musik khas timur tengah. Kesemuanya dicampur aduk secara kasar sehingga membentuk komposisi yang kaya dan kadang tak terduga. Dengan kentalnya nuansa Yiddish di album ini, jelas ini merupakan karya seorang musisi yang menganggap penting akar budayanya sendiri tak peduli apapun referensi musik yang dilahapnya. Musisi seperti ini selalu layak dipuji.

Ödland - The Caterpillar


DownloadAlbum milik Odland ini terdiri dari lima lagu akustik berbahasa Perancis yang terinspirasi dari musik klasik abad ke-19 yang diramu dalam bentuk folk ringan yang sederhana. Mendengarkan album ini seperti menikmati dongeng perjalanan mimpi Alice di Wonderland yang indah dan surealis. Meski terkesan sepi, album ini tak lantas menyisakan kekosongan di tiap lagunya. Vokal tak hanya muncul bernyanyi tapi juga sering kali berbentuk narasi, seolah mendongeng dengan suara yang kekanakan sambil diiringi musik akustik sepi yang hikmad.

Wednesday, December 22, 2010

El Grupo Nuevo de Omar Rodriguez Lopez - Cryptomnesia


Download

Beginilah jadinya jika The Mars Volta bertemu Hella. Ini bukan proyek solo Omar Rodriguez, melainkan sebuah supergrup yang dia bentuk atas formasi Cedric Bixler Zavala, Juan Alderete de la Pena dari The Mars Volta, serta Zach Hill dari Hella dan Jonathan Hischke, yang merupakan mantan personel Hella. Band yang menggabungkan nama-nama terbaik dari kedua grup hebat ini tentu saja memicu ekspektasi tinggi. Memang, lagu-lagu di album ini tidak buruk. Malahan, ini bisa berupa semacam nostalgia akan album De-loused in the Commatorium yang notabene belakangan ini dirindukan para penggemar The Mars Volta. Zach HIll pun seperti sengaja mengerem permainan drumnya supaya tidak terlalu mematikan keliaran Omar, yang mana akhirnya menjadikan komposisi mereka tak terlalu berlebihan. Namun, bagi yang sudah terlanjur menaruh ekspektasi besar, album ini hanya berupa kolaborasi biasa dan bukan sebuah grup yang menawarkan sesuatu yang baru. Semoga mereka menyadari itu sebelum membuat album selanjutnya.